Friday, July 31, 2009

Pembasmian Penyakit Demam Berdarah Dengue

Kontroversi Program Pengasapan dengan Insektisida

Pada musim penghujan selain banjir, penyakit demam berdarah dengue (DBD) menjadi
ancaman terjadinya kepanikan pada masyarakat. Kantor regional Organisasi Kesehatan Dunia
(WHO) di Asia Tenggara memperkirakan bahwa setiap tahun terdapat sekitar 50-100 juta
kasus demam dengue (DD) dan tidak kurang dari 500.000 kasus DBD memerlukan
perawatan di rumah sakit. Dalam kurun waktu 10-25 tahun ini, DBD merupakan penyebab
utama kesakitan dan kematian anak di Asia Tenggara.

P>small 2small 0< waktu penyakit ini menyebar menjadi kejadian luar biasa (KLB) biasanya
akan terjadi kepanikan pada masyarakat, apalagi bila isu-isu mengenai anak-anak dan orang
dewasa yang sakit atau yang meninggal merebak dengan luas. Sebagai jawaban atas
permasalahan tersebut, pemerintah biasanya bereaksi pragmatis dengan memilih metodologi
yang dianggap pamungkas oleh rakyatnya dan dapat menunjukkan kinerja dengan kasatmata.
Pilihan yang populer adalah pengasapan insektisida dengan mesin yang dapat menyemburkan
asap tebal insektisida dengan baunya yang khas dan mesin yang mengeluarkan bunyi yang
keras. Bunyi mesin dan asap tebal yang disertai bau insektisida yang khas dapat didengar,
dilihat, dan dirasakan oleh masyarakat. Hal itu sekaligus menunjukkan bahwa pemerintah
telah melaksanakan tugasnya dan hal ini dapat menimbulkan "rasa aman" pada masyarakat.
Walaupun kasus masih bermunculan, kepanikan masyarakat untuk sementara dapat
"diredakan", kalaupun petaka akhirnya juga menimpa keluarga mereka, suratan takdir yang
dijadikan rujukan.
Sejalan dengan perjalanan waktu kasus pun berangsur turun dan masyarakat mulai
melupakan KLB tersebut sampai bulan yang sama tahun depannya, atau tahun-tahun depan
berikutnya. Siklus ini berlangsung terus, dan menurut catatan, siklus seperti ini telah terjadi di
Indonesia sejak tahun 1956, hanya intensitas siklus tahunannya yang berbeda di berbagai
daerah.
Alhasil, angka kesakitan penyakit DBD dari tahun ke tahun bukannya menunjukkan gejala
penurunan, melainkan malah menunjukkan kecenderungan meningkat. Walaupun ada
sebagian masyarakat (dengan ingatan masa lalu) yang memiliki pendapat skeptis tentang
kegunaan pengasapan tersebut, setiap tahun cara-cara penanggulangan seperti ini berlangsung
terus. Dalam kondisi seperti ini menarik menyimak pendapat Gubler yang menyatakan bahwa
keberhasilan dalam penanggulangan DBD menurut konsep ilmiah tidak harus selalu sejalan
dengan kaidah politik tentang penanganan KLB penyakit DBD.
Kontroversi mesin "fog"
Pengasapan dengan insektisida untuk membasmi nyamuk dewasa Aedes aegypti, sebagai
pembawa virus dengue penyebab penyakit DBD, dilakukan dengan menggunakan mesin fog
(mesin pembuat kabut asap) yang dapat dipasang pada pesawat terbang, kapal ataupun
kendaraan bermotor lainnya, dan terdapat pula jenis mesin fog yang dapat dijinjing (thermal
fog). Di Indonesia, yang digunakan adalah mesin fog yang diangkut dengan mobil (dikenal
dengan mesin ULV) dan mesin fog yang dijinjing.
Pengasapan insektisida dengan mesin ULV dilaksanakan dengan cara menyemprotkan
insektisida ke lahan atau bangunan yang dilewati di sepanjang jalan yang dapat dilalui
kendaraan roda empat. Dengan daya semprotnya yang kuat, diharapkan nyamuk yang berada
di halaman maupun di dalam rumah terpapar dengan insektisida dan dapat dibasmi ("knock
down effect"). Untuk mencapai hasil yang optimal, maka sepanjang jalan yang dilalui harus
dipastikan tidak ada penghalang antara mesin dan lahan atau bangunan yang akan dilakukan
pengasapan tersebut.
Studi mengenai keberhasilan pembasmian nyamuk dewasa Aedes aegypti dengan mesin ULV
hanya didapat pada awal pelaksanaannya di era tahun 1970-an. Penelitian yang dilaksanakan
di Thailand oleh Kilpatrick dan kawan-kawan itu menunjukkan, dengan pengasapan ULV 2
kali dengan tenggang waktu 4 hari dapat menurunkan tingkat gigitan nyamuk sampai 90
persen dan penurunan jumlah telur nyamuk yang terperangkap (ovitrap) dari 50 persen
menjadi 0 persen. Walaupun hingga kini uji keampuhan insektisida terhadap nyamuk yang
dimasukkan kurungan masih menunjukkan angka kematian nyamuk yang sempurna,
keberhasilan pembasmian nyamuk Aedes aegypti seperti penelitian tersebut tidak pernah
dicapai lagi.
Para peneliti menyimpulkan bahwa kegagalan program pengasapan tersebut karena teknik
pelaksanaan dan kondisi lapangan yang tidak menunjang, seperti arah angin yang
menghalangi penyebaran asap, struktur pintu atau jendela yang menghalangi masuknya asap
insektisida, struktur bangunan yang terdiri dari banyak sekat sehingga menghalangi
menyebarnya aliran asap, mesin ULV yang tidak prima, operator yang tidak terampil, bahkan
sampai adanya anggapan bahwa nyamuk telah menjadi kebal terhadap insektisida.
Pengasapan dengan mesin fog jinjing dilaksanakan oleh petugas dari rumah ke rumah dalam
radius 100 meter mengelilingi rumah penderita ("fogging focus") karena diperkirakan selama
hidupnya nyamuk betina tersebut hanya terbang dalam jarak 50-100 meter. Tidak seperti
pengasapan dengan mesin ULV, pada pengasapan dengan mesin fog jinjing seluruh pintu
atau jendela rumah malah harus ditutup. Pengasapan dilaksanakan oleh petugas dari dalam
rumah untuk membunuh nyamuk dewasa yang berada di dalam rumah, seperti halnya kita
menyemprot menggunakan obat nyamuk.
Metode ini diduga dapat lebih efektif membunuh nyamuk betina yang memiliki sifat suka
berdiam di dalam rumah di daerah yang gelap. Namun dalam kenyataannya, sifat nyamuk ini
yang pandai bersembunyi di kegelapan disertai dengan kemampuannya terbang horizontal
dan vertikal serta kemungkinan nyamuk tersebut terbawa oleh alat transportasi ke tempat lain
telah membuat metode pengasapan di dalam rumah tersebut juga kurang dapat berperan
dalam membasmi penyakit DBD.
Hal ini didukung pula oleh adanya tenggang waktu antara seseorang mulai sakit sampai
dilakukan pengasapan sehingga nyamuk pembawa virus tersebut telah sempat berpindah ke
rumah lain dan menularkan ke orang lain, jauh sebelum dilakukan pengasapan. Selain itu,
dapat juga terjadi bahwa seseorang tertular, tetapi hanya menunjukkan gejala sakit demam
biasa (demam dengue) sehingga tidak terdeteksi dan tidak dilakukan pengasapan. Hal lain
yang dapat mempengaruhi adalah tingginya mobilitas masyarakat perkotaan sehingga sulit
melacak sumber (tempat) terjadinya penularan. Agaknya faktor inilah yang berperan dalam
kegagalan penanganan epidemi DBD dengan metode pengasapan insektisida di banyak
negara.

Pemberantasan sarang nyamuk
Pada tahun 1901 Kuba dengan bantuan angkatan bersenjata Amerika Serikat berhasil
membasmi penyakit demam kuning (yang juga ditularkan melalui nyamuk Aedes aegypti)
tanpa menggunakan insektisida, hanya dengan cara membasmi sarang nyamuk Aedes
aegypti. Keberhasilan tersebut ditunjang dengan program karantina dan ketersediaan
vaksinnya. Upaya ini tercatat merupakan keberhasilan pertama di dunia melawan penyakit
yang ditularkan melalui nyamuk.
Selain Kuba, Singapura tercatat pula sebagai negara yang berhasil memerangi nyamuk Aedes
aegypti dengan program pemberantasan sarang nyamuk (PSN) melalui penyuluhan yang
intensif dan informasi yang benar tentang pernyamukan (entomologi) serta penegakan
hukum.
Tidak seperti halnya penyakit demam kuning, penyakit demam berdarah dengue hingga kini
belum ditemukan vaksinnya. Sambil menunggu perkembangan vaksin dengue, saat ini
program penanggulangannya lebih banyak bertumpu pada pemberantasan nyamuk (dewasa)
Aedes aegypti-nya. Pemberantasan nyamuk dewasanya dengan cara pengasapan insektisida
menimbulkan banyak kontroversi, sedangkan pemberantasan sarang nyamuk itu, untuk
menghilangkan jentik (larva), kurang mendapat perhatian dari masyarakat karena dianggap
merupakan upaya yang tidak jelas hasilnya dibanding program pengasapan.
Masyarakat tahu bahwa penyakit DBD ditularkan oleh nyamuk dan setelah pengasapan
masyarakat secara nyata merasakan bahwa jumlah nyamuk berkurang. Dengan demikian,
seharusnya penyakit DBD ikut terbasmi. Logika tersebut tidak sepenuhnya benar karena
belum tentu nyamuk yang membawa virus dengue ikut terbasmi pada saat tersebut. Yang
sering dilupakan adalah bahwa program pemberantasan penyakit DBD tidak hanya
memberantas nyamuk Aedes aegypti saja, tetapi juga memberantas virus dengue yang dibawa
oleh nyamuk tersebut. Mengingat hal-hal tersebut di atas, seyogianya penekanan juga
diberikan kepada upaya pengurangan jumlah nyamuk yang dapat membawa virus dengan
cara membunuh jentiknya.
Selain dari faktor nyamuk, ulah manusia ikut menambah subur populasi nyamuk ini.
Kebanyakan kota-kota besar di Indonesia, seperti halnya kota-kota di negara berkembang
lainnya, telah berkembang pesat dengan segala implikasinya, seperti tumbuhnya daerah
kumuh karena urbanisasi, terbatasnya pasokan air bersih, manajemen pengelolaan kota yang
tidak sempurna, manajemen lingkungan yang tidak profesional. Semua itu menimbulkan
bertambahnya tempat-tempat yang dapat dipakai bersarang dan berkembang biaknya nyamuk
Aedes aegypti.
Hal ini didukung pula oleh tumbuhnya gedung-gedung bertingkat yang tinggi dan tertutup
rapat serta tumbuhnya perumahan gedongan dengan pagar yang tinggi-tinggi. Akibatnya,
nyamuk Aedes aegypti semakin berkembang pesat sejalan dengan pertumbuhan manusia di
perkotaan yang memiliki segudang permasalahan tersebut. Kurangnya informasi yang benar
tentang penanggulangan penyakit DBD kepada masyarakat dan disertai kehidupan sosial
masyarakat kota yang semakin individualistis menyebabkan semakin sulitnya komunitas
yang ada untuk dapat saling bekerja sama membasmi nyamuk Aedes aegypti.
Disadari oleh para ahli bahwa pemusnahan makhluk hidup seperti Aedes aegypti memerlukan
pengetahuan tentang ilmu evolusi, ekologi populasi serta dinamika populasinya.
Menurut Tilman, pemusnahan suatu spesies makhluk hidup hanya dapat dilakukan melalui
pemusnahan habitatnya, bukan pemusnahan persatuan jenis spesies tersebut. Dengan
demikian, masih akan dibutuhkan waktu yang lama bagi manusia untuk hidup bersama
dengan nyamuk Aedes aegypti ini.
Untuk itu, diperlukan manipulasi lingkungan yang terstruktur dan berkesinambungan, yang
tidak merusak habitat manusia sendiri untuk membasmi nyamuk ini. Kondisi lingkungan
yang tertata rapi, halaman yang bersih dan asri, bak mandi yang hanya dilengkapi shower
seperti laiknya tinggal di cottage-cottage hotel berbintang jelas akan dapat membantu
mengurangi berkembangnya spesies ini. Untuk itu, harapan satu-satunya memang harus
ditumpukan pada PSN dengan gerakan 3 M, yang harus dilaksanakan serentak oleh seluruh
masyarakat kota secara berkesinambungan dan terus menerus sepanjang tahun.

Oleh : dr Stefanus Lawuyan MPH
Sekretaris Badan Perencanaan Pembangunan Kota Surabaya

0 komentar:

Post a Comment

www.lowongankerjababysitter.com www.lowongankerjapembanturumahtangga.com www.lowonganperawatlansia.com www.lowonganperawatlansia.com www.yayasanperawatlansia.com www.penyalurpembanturumahtanggaku.com www.bajubatikmodernku.com www.bestdaytradingstrategyy.com www.paketpernikahanmurahjakarta.com www.paketweddingorganizerjakarta.com www.undanganpernikahanunikmurah.com